Urgensi VCT (Video Conference Training) bagi Guru diera Revolusi Industri 4.0
Revolusi Industri 4.0 telah membawa dampak yang sangat luas keberbagai aspek kehidupan, tidak terkecuali dibidang pendidikan, baik yang menyangkut hal-hal konseptual maupun hal-hal praktis. Masalah konseptual dalam dunia pendidikan misalnya tentang ; visi, misi, program dan tujuan pendidikan. Kurikulum, yang pada hakekatnya berupa seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (UU RINo. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS) pun termasuk dalam masalah konseptual. Adapun hal-hal praktis seperti ; pemanfaatan teknologi (media) pembelajaran, teknik dan instrumentasi pengujian, serta berbagai hal administrasi dan manajemen pendidikan.
Namanya juga revolusi yang berarti segera atau mendadak, maka tidak tanggung-tanggung, perubahan yang terjadi pun dipastikan akan berlangsung dengan sangat cepat dan menyangkut banyak hal yang kompleks. Serba instant dan serba wide - social effects, itu indikator sederhananya. Apalagi revolusi itu didukung oleh Big Data dan social media yang hampir tidak pernah berhenti untuk meng- up date diri. Setiap orang (termasuk guru) pada saat ini dipaksa untuk memiliki 3 (tiga) hal terkait situasi tersebut, yaitu : 1) Kreativitas dan inovasi, 2) Efektivitas dan efisiensi, serta 3) Kejujuran dan tanggung jawab.
Kreativitas berarti to create - menciptakan hal-hal baru yang belum pernah ada, yang bersifat solutif. Inovasi berarti mengembangkan hal-hal yang sudah ada dengan perspektif dan nilai-nilai baru sehingga memberikan manfaat yang lebih banyak, lebih baik, dan lebih lama. Efektivitas berarti mengupayakan strategi dan teknik-teknik yang lebih praktis untuk mencapai suatu tujuan dan menyelesaikan tantangan / masalah yang ada, yang langsung pada inti persoalannya. Efisiensi yang berarti menggunakan sumber daya secara hemat dan cermat dalam mewujudkan suatu tujuan atau mengerjakan aktivitas, baik sumber daya material, manusia, maupun lingkungan / alam. Untuk mendukung keperluan efektivitas dan efisiensi ini, Big Data di dunia maya tersedia sangat leluasa untuk diakses oleh siapa pun, kapa [un, dan di mana pun.
Sementara itu, kejujuran dan tanggung jawab adalah dua hal yang harus bersandingan secara erat layaknya dua muka pada sekeping uang. Kejujuran dalam era ini menjdi hal yang sangat penting. Publisitas berlangsung begitu cepat dan luas, namun jejaknya tetap akan tersimpan, tidak bisa dihilangkan. Maka ketidakjujuran / kebohongan yang dengan sengaja dilakukan, tentu akan mendapat celaan dari masyarakat dunia yang kini menjadi satu warga rumah besar baru, yang tersambung dalam jejaaring digital di era revolusi industri 4.0 ini. Dan itupun berarti menuntut tanggung jawab yang tidak ringan. Konsekuansi terpenting dalam hal ini adalah kehati-hatian, kesopanan, etika, moral, menahan diri, empati, simpati, dan lain-lain istilah yang senada dengan itu, agar tidak menimbulkan perselisihan / sengketa diantara warga rumah besar baru ini.
Bagi para guru, pemahaman tentang ; mengajar, melatih, membiasakan, mengukur, menilai, dan lain-lain aktivitas pendidikan mutlak wajib disesuaikan seiring dengan revolusi yang terjadi. Guru bukan lagi menjadi orang yang paling pintar di kelasnya, sehingga mereka wajib untuk terus belajar, sebab boleh jadi murid-murid sudah berkembang jauh melewati batas-batas buku dan ruang kelas. Buku bukanlah satu-satunya sumber ilmu, karena sesungguhnya setaip saat setiap orang (termasuk murid) harus diyakini sudah mengakses berbagai sumber ilmu lainnya yang tidak terbatas, misalnya melalui internet dan masuk Big Data yang tersedia di dunia maya. Kelas bukan lagi seperti dulu yang menjadi satu-satunya pusat belajar, tetapi dunia nyata dan berbagai kejadian di luar kelas -lah yang kini justru telah menjadi super - big classroom yang sangat menarik.
Guru di berbagai tempat di belahan dunia ini (khususnya di Indonesia) musti segera berbenah, memperbaiki diri, meningkatkan kapasitas, kapabilitas, integritas, dan berkolaborasi seluas mungkin. Teknilogi sudah memungkinkan untuk itu. Maka model pembelajaran jarak jauh dapat menjadi solusi praktis dan orakmatis untuk maksud ini. Video Conference Training (VCT) adalah media yang sangat potensial untuk berakomodasi terhadap Revolusi Industri 4.0 yang berdampak dibidang pendidikan.
Melalui VCT maka para guru terkoneksi satu sama lain, dapat berkolaborasi, bersinerji, berbagi, dan seterusnya dalam rangka meningkatkan kompetensi-kompetensi yang harus dimilikinya dalam menjalani profesinya, baik kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, maupun kompetensi sosialnya. Para guru akan saling menjadi tutor sebaya, nara sumber, dan bahkan konsultan satu dari yang lainnya, dalam waktu yang cepat dan singkat. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) / Information and Communication Technology (ICT) tentu akan sangat men-support . Jarak bukan lagi menjadi masalah, Waktu pun demikian. Apalagi bahwa aktivitas BCT ini akan menjadi data baru yang setiao saat bisa diakses, dirujuk, ditiru, dan diperbaharui agar senantiasa update dan up tu date.
Insyaallah, melalui VCT pendidikan di Indonesia akan maju, yang diawali dengan proses kemajuan dari para guru yang menjadi pelaku utamanya.
Revolusi Industri 4.0 telah membawa dampak yang sangat luas keberbagai aspek kehidupan, tidak terkecuali dibidang pendidikan, baik yang menyangkut hal-hal konseptual maupun hal-hal praktis. Masalah konseptual dalam dunia pendidikan misalnya tentang ; visi, misi, program dan tujuan pendidikan. Kurikulum, yang pada hakekatnya berupa seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (UU RINo. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS) pun termasuk dalam masalah konseptual. Adapun hal-hal praktis seperti ; pemanfaatan teknologi (media) pembelajaran, teknik dan instrumentasi pengujian, serta berbagai hal administrasi dan manajemen pendidikan.
Namanya juga revolusi yang berarti segera atau mendadak, maka tidak tanggung-tanggung, perubahan yang terjadi pun dipastikan akan berlangsung dengan sangat cepat dan menyangkut banyak hal yang kompleks. Serba instant dan serba wide - social effects, itu indikator sederhananya. Apalagi revolusi itu didukung oleh Big Data dan social media yang hampir tidak pernah berhenti untuk meng- up date diri. Setiap orang (termasuk guru) pada saat ini dipaksa untuk memiliki 3 (tiga) hal terkait situasi tersebut, yaitu : 1) Kreativitas dan inovasi, 2) Efektivitas dan efisiensi, serta 3) Kejujuran dan tanggung jawab.
Kreativitas berarti to create - menciptakan hal-hal baru yang belum pernah ada, yang bersifat solutif. Inovasi berarti mengembangkan hal-hal yang sudah ada dengan perspektif dan nilai-nilai baru sehingga memberikan manfaat yang lebih banyak, lebih baik, dan lebih lama. Efektivitas berarti mengupayakan strategi dan teknik-teknik yang lebih praktis untuk mencapai suatu tujuan dan menyelesaikan tantangan / masalah yang ada, yang langsung pada inti persoalannya. Efisiensi yang berarti menggunakan sumber daya secara hemat dan cermat dalam mewujudkan suatu tujuan atau mengerjakan aktivitas, baik sumber daya material, manusia, maupun lingkungan / alam. Untuk mendukung keperluan efektivitas dan efisiensi ini, Big Data di dunia maya tersedia sangat leluasa untuk diakses oleh siapa pun, kapa [un, dan di mana pun.
Sementara itu, kejujuran dan tanggung jawab adalah dua hal yang harus bersandingan secara erat layaknya dua muka pada sekeping uang. Kejujuran dalam era ini menjdi hal yang sangat penting. Publisitas berlangsung begitu cepat dan luas, namun jejaknya tetap akan tersimpan, tidak bisa dihilangkan. Maka ketidakjujuran / kebohongan yang dengan sengaja dilakukan, tentu akan mendapat celaan dari masyarakat dunia yang kini menjadi satu warga rumah besar baru, yang tersambung dalam jejaaring digital di era revolusi industri 4.0 ini. Dan itupun berarti menuntut tanggung jawab yang tidak ringan. Konsekuansi terpenting dalam hal ini adalah kehati-hatian, kesopanan, etika, moral, menahan diri, empati, simpati, dan lain-lain istilah yang senada dengan itu, agar tidak menimbulkan perselisihan / sengketa diantara warga rumah besar baru ini.
Bagi para guru, pemahaman tentang ; mengajar, melatih, membiasakan, mengukur, menilai, dan lain-lain aktivitas pendidikan mutlak wajib disesuaikan seiring dengan revolusi yang terjadi. Guru bukan lagi menjadi orang yang paling pintar di kelasnya, sehingga mereka wajib untuk terus belajar, sebab boleh jadi murid-murid sudah berkembang jauh melewati batas-batas buku dan ruang kelas. Buku bukanlah satu-satunya sumber ilmu, karena sesungguhnya setaip saat setiap orang (termasuk murid) harus diyakini sudah mengakses berbagai sumber ilmu lainnya yang tidak terbatas, misalnya melalui internet dan masuk Big Data yang tersedia di dunia maya. Kelas bukan lagi seperti dulu yang menjadi satu-satunya pusat belajar, tetapi dunia nyata dan berbagai kejadian di luar kelas -lah yang kini justru telah menjadi super - big classroom yang sangat menarik.
Guru di berbagai tempat di belahan dunia ini (khususnya di Indonesia) musti segera berbenah, memperbaiki diri, meningkatkan kapasitas, kapabilitas, integritas, dan berkolaborasi seluas mungkin. Teknilogi sudah memungkinkan untuk itu. Maka model pembelajaran jarak jauh dapat menjadi solusi praktis dan orakmatis untuk maksud ini. Video Conference Training (VCT) adalah media yang sangat potensial untuk berakomodasi terhadap Revolusi Industri 4.0 yang berdampak dibidang pendidikan.
Melalui VCT maka para guru terkoneksi satu sama lain, dapat berkolaborasi, bersinerji, berbagi, dan seterusnya dalam rangka meningkatkan kompetensi-kompetensi yang harus dimilikinya dalam menjalani profesinya, baik kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, maupun kompetensi sosialnya. Para guru akan saling menjadi tutor sebaya, nara sumber, dan bahkan konsultan satu dari yang lainnya, dalam waktu yang cepat dan singkat. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) / Information and Communication Technology (ICT) tentu akan sangat men-support . Jarak bukan lagi menjadi masalah, Waktu pun demikian. Apalagi bahwa aktivitas BCT ini akan menjadi data baru yang setiao saat bisa diakses, dirujuk, ditiru, dan diperbaharui agar senantiasa update dan up tu date.
Insyaallah, melalui VCT pendidikan di Indonesia akan maju, yang diawali dengan proses kemajuan dari para guru yang menjadi pelaku utamanya.